Ada satu hukum alam tak tertulis di dunia ini yang belum sempat dirumuskan oleh Albert Einstein maupun Stephen Hawking: probabilitas sepasang sandal jepit baru yang tertukar di teras masjid berbanding lurus dengan seberapa sayangnya si pemilik terhadap sandal tersebut. Fenomena metafisika lokal ini dialami langsung oleh Mas Joko pada suatu salat Jumat yang tenang di Komplek Griya Asri Harmoni.

Tragedi Teras Masjid

Siang itu, Joko melangkah mantap menuju Masjid Al-Ikhlas mengenakan sandal jepit merk Swallow warna hijau tosca yang baru dibelinya kemarin sore seharga lima belas ribu rupiah. Karetnya masih empuk, tonjolan penjepitnya masih kencang, dan aroma pabriknya masih tercium segar seperti bau masa depan yang cerah.

“Aku taruh di pojok dekat pilar saja, biar aman,” gumam Joko dalam hati seraya menyembunyikan sandalnya di balik pot bunga puring.

Khotbah Jumat berlangsung khidmat, salat dua rakaat tuntas, doa bersama terucap lirih. Namun ketika Joko melangkah ke teras masjid untuk beranjak pulang, matanya membelalak. Di balik pot puring tempat ia memarkir sandal kesayangannya, tidak ada lagi hijau tosca yang berseri-seri. Yang tersisa hanyalah sepasang sandal jepit warna biru kusam dengan ketebalan menyerupai kertas folio, tali penjepit sebelah kiri diikat peniti berkarat, dan bagian tumitnya sudah aus membentuk relief cekungan Gunung Merapi.

“Astagfirullahaladzim... metamorfosis macam apa ini?” keluh Joko sambil mengelus dada. Sandal barunya telah mengalami devaluasi secara brutal dalam kurun waktu empat puluh lima menit saja.

Sidang Pleno di Teras Rumah Pak RT

Merasa tidak terima harkat dan martabat alas kakinya teraniaya, Joko berjalan dengan kaki telanjang menapak aspal panas menuju rumah Pak RT Bambang. Kebetulan Pak RT sedang duduk santai di teras rumahnya sambil menyeruput kopi hitam pekat dan mencicipi pisang goreng panas buatan Bu RT.

“Ada apa, Jok? Muka kamu kusut amat seperti struk belanjaan kena air hujan,” tanya Pak RT seraya meletakkan cangkir kopinya.

“Lapor, Pak RT! Ada peristiwa perampasan hak milik atas alas kaki di tempat ibadah. Sandal saya yang baru ditukar sama fosil sandal zaman perundagian!” ujar Joko penuh drama.

Pak RT Bambang terkekeh pelan. Beliau lalu menuangkan secangkir kopi hangat lagi untuk Joko. “Duduk dulu, Jok. Dinginkan kepala, seruput kopinya. Di dunia ini ada tiga misteri terbesar umat manusia: letak Segitiga Bermuda, asal-usul tuyul, dan misteri kemana perginya sandal jepit bagus di masjid.”

Hikmah Secangkir Kopi dan Sandal Ikhlas

Pak RT melanjutkan nasihat filosofisnya dengan senyum kebapakan yang menenangkan: “Kamu tahu kenapa nama masjid kita Al-Ikhlas? Karena tiap minggu kita diuji tingkat keikhlasannya lewat sandal jepit. Anggap saja itu sedekah involuntir, Jok. Siapa tahu orang yang salah ambil sandalmu itu kakinya sedang melepuh atau terburu-buru menjemput istrinya yang melahirkan.”

Joko menyeruput kopi panasnya perlahan. Pahitnya kopi bercampur manisnya gula aren mulai meredakan amarah di ubun-ubunnya. “Tapi masa iya gantinya sandal berpeniti, Pak RT? Mana yang kanan ukuran sembilan, yang kiri ukuran sepuluh.”

“Nah, itu namanya seni kehidupan, Jok! Berarti pemiliknya orang yang sangat menjunjung tinggi toleransi perbedaan,” kelakar Pak RT yang disambut tawa renyah tetangga sebelah yang kebetulan melintas.

Akhirnya siang itu Joko pulang bukan hanya dengan perut kenyang pisang goreng gratis dari Pak RT, tapi juga dengan pemahaman baru: di dunia ini, terkadang kita kehilangan sandal seharga lima belas ribu rupiah hanya untuk mendapatkan tawa yang tak ternilai harganya.